ipebe
IPB Badge

VARIASI dalam penyajian cemilan atau makanan ringan coba ditampilkan chef D-Cafe Smile’s Plaza Building. Tidak hanya menyajikan kue-kue kering, gorengan, dan kerupuk, tapi juga makanan ringan berbahan cumi-cumi yang tentu saja terasa lezat dan gurih untuk menemani teh, kopi, ataupun jus yang diminum di kala menikmati waktu senggang.

Ada dua makanan ringan berbahan cumi-cumi yang diracik chef D-Cafe yakni Spice Calamari dan Spaghetti Marinara. Untuk Spice Calamari bahan yang digunakan adalah cumi-cumi, telur, tepung, bread crumb, lime juice, mayonaize, dan saus cabai. Membuat masakan ini terlebih dulu cumi-cumi dipotong dalam bentuk bulat atau ring.

Kemudian cumi-cumi diberi bumbu garam, merica, dan air jeruk. Setelah cumi dibumbui, lalu tuang ke dalam tepung dan dicampurkan menggunakan telur dan tepung roti. Terakhir cumi yang sudah dibaluti tepung dan campuran bumbu digoreng hingga krispy.

“Nah, kemudian masakan ini disajikan di depan konsumen bersama saus cabai. Rasa masakan ini tentu saja sangat gurih dan juga sedikit pedas. Malah rasa pedasnya memang kuat dikombinasikan jeruk,” jelas Western Chef D-Cafe, Jefri Yusri, kemarin.

Lebih lanjut menurut Jefri, makanan ringan ini lebih cocok dinikmati di waktu senggang sambil menyeruput minuman kesukaan. Rasa cumi-cumi dalam masakan ini memang sangat terasa, sehingga penyuka seafood tentu saja akan ketagihan menikmati masakan yang satu ini.

Satu makanan ringan lagi yang bahannya dari cumi-cumi adalah Spaghetti Marinara. Mi khas Italia ini yang biasanya menggunakan daging sapi atau ayam, lewat tangan dingin Jefri Yusri, spaghetti menggunakan bahan dasar cumi-cumi segar yang tentu memberi rasa berbeda di lidah, khususnya pecinta spaghetti khas Italia.

Spaghetti Marinara ini bahannya menggunakan spaghetti porta, minyak zaitun, cumi-cumi, saus tomat, ikan, dan udang. Menurut Jefri, kelebihan spaghetti ini memang karena bahannya adalah seafood. Sehingga sangat cocok dinikmati warga di kota ini.

“Cara membuat masakan ini yakni terlebih dulu rebus spaghetti dengan air panas. Setelah direbus kemudian tuang dan tiriskan, lalu tumis bawang putih dan bawang bombay sampai matang. Nah, baru kemudian dimasukkan seafood yakni ikan, cumi-cumi, dan udang. Setelah seafood matang kemudian masukkan saus tomat,” papar Jefri. (ram)

Disebutnya flatfish atau orang Indonesia sering menyebut ikan sebelah masuk dalam ordo Pleuronectiform, ikan berbadan pipih, kedua mata yang berada pada satu sisi (atas), sementara sisi yang satunya tidak ada mata dan sedikit pigmen. Justru itulah yang menjadikan menjadikan ikan ini paling unik diantara ikan bertulang belakang yang berbentuk simetris.,.,

Secara komersial ikan ini cukup penting karena disamping kandungan nutrisinya yang cukup tinggi rasanya juga nikmat, akan tetapi di alam stoknya terbatas. Ikan dalam spesies benthic ditemukan di perairan tropis dan hangat, biasanya bertelur di daerah lepas pantai, beberapa bertelur di muara sungai. Pada saat tingkat kesuburan tinggi, betina biasanya melepaskan sedikitnya beberapa ratus ribu telur. Untuk betina yang berukuran besar mampu bertelur hingga mencapai lebih dari 2 juta, dan dengan segera telur-telur itu menjadi larvae berukuran 1,5-3 mm.

Ikan berbadan pipih ini suka sekali menyamar, menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya dengan cara memendamkan badannya ke dalam lumpur atau pasir di dasar taut, sementara hanya matanya yang muncul ke permukaan. Matanya dapat diangkat atau diturunkan dan digerakkan dengan bebas. lkan ini memakan terutama binatang berkulit keras, hewan tak bertulang punggung. Tanpa gerak,dengan sangat sabar ia menunggu mangsanya sampai mangsa benar-benar dekat dan lengah dengan gerakan yang sangat cepat dan mendadak menyergap, jarang sekali mangsa dapat lolos dari sergapannya. Sepertinya predator ini diciptakan demikian, pertama untuk melindungi diri dari predator yang lebih besar, kedua untuk memudahkan ia memangsa.

Ordo ini terdiri dart berbagai variasi spesies. Berdasarkan temuan para peneliti dari UE telah terkumpul sebanyak 28 spesies ikan sebelah (flatfish), dan hanya ada 6 spesies yang memiliki nilai komersial tinggi, yanu Botidae, Cynoglossidae, Citaridae, Pleuronectidae, Scoftalmidae, dan Soleidae. Jenis produk ini dipasarkan dalam bentuk fillet, dengan pasar utama Eropa. Dari keenam spesies di atas masing-masing memiliki karakter plot yang berbeda-beda yang mungkin akan rnemuudahkan bagi kita untuk mengidentifikasi, karena yang ada di pasaran dalam bentuk fillet maka yang sering terjadi ketika produk yang lebih berkualitas tidak ada diganti dengan produk yang kualitasnya lebih rendah. Di antara produk flatfish yang paling unggul kualitasnya adalah jenis turbot (Psetta maxima) yang berasal dari Mediterania. Jenis inilah yang di pasaran Eropa sering diganti (dipalsukan) dengan jenis lain yang kualitasnya lebih rendah, yaitu jenis Scophtalmus rhombus, kenapa? karena tekstur dan warna dagingnya mirip dan sulit dibedakan. Indonesia adalah salah satu negara pemasok flatfish ke Uni Eropa. (Sumber : Warta Pasar Ikan Juni 2005).

Oleh: Ma’ruf Kasim

Dugong merupakan hewan mamalia laut yang sangat jarang dapat di temukan lagi pada habitat aslinya khususnya di sekitar perairan .  Penyebaran dugong di perairan dunia di catat pada longitude 30°E sampai 170°E dan antara latitude 30°N sampai 30°S. Kawasan ini mencakup Australia, Teluk Persian dan laut merah, pantai Afrika, Sri Lanka, Indonesia, Philipina, Malaysia, Thailand dan di sekitar kepulauan Pacific.

Di Indonesia sendiri, populasi dugong sangat sedikit.  Dilaporkan tahun 1970 populasi dugong mencapai 10.000 ekor dan tahun 1994 di perkirakan popluasinya hanya sekitar 1000 ekor. Penyebaran dugong di Indonesia laporkan berada di kawasan timur Indonesia mencakup Sulawesi (Bunaken, Wakatobi Takabonerate), Nusa Tenggara Timur (Sumba, Lembata, pulau Flores, Teluk Kupang Kepulauan Komodo), Maluku Pulau Aru Pulau Lease seram dan Halmahera) Perairan papua (Pulau Biak, sorong dan Fakfak) dan sebagian kecil pada perairan Sumatra (Riau, Bangka dan Pulau Belitung), Jawa (ujung Kulon, pantai Cilacap, Cilegon, labuhan dan Segara Anakan) dan Bali. Informasi tentang keberadaan dugong hanya di peroleh dari beberapa nelayan yang kebetulan secara tidak sengaja menangkap atau melihat dugong itu sendiri. Ataupun oleh pengamatan beberapa NGO yang kebetulan survey dan pengamatan tentang dugong di .

Masih sangat minimnya penelitian yang dilakukan terhadap ekologi dugong yang merupakan hambatan utama bagi upaya konservasi dugong itu sendiri. Ini karena memang sangat langka untuk dapat menemukan dugong secara langsung.  Pernah pula di laporkan, pada bulan October 1999, Nelayan Cilegon menangkap dugong dan langsung di bawa ke Oceanarium (Taman Impian Jaya Ancol). Dan saat itu pun Oceanarium telah mempunyai dugong sejak tahun 1984.

Sebagai mamalia laut, dugong sangat tergantung pada lamun (seagrass) yang merupakan habitat dan makanan alaminya. Dugong hanya memakan lamun, itupun hanya beberapa jenis di antaranya  Halodule sp., Halophile sp. dan Syringodium sp.
Sementara penyebaran lamun ini hanya ada pada kawasan-kawasan tertentu, yang saat sekarang pun telah terjadi pengrusakan dan degradasi yang cukup serius.
Sejak di keluarkannya Peraturan pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Konservasi Flora dan Fauna yang dalam hal ini termasuk perlindungan Dogong dugon dan lamun (seagrass). Upaya perlindungan terus berjalan tidak maksimal.

Banyak hal yang menghambat upaya konservasi itu sendiri di tambah dengan kurangnya infomasi tentang biologi dan ekologi dugong di Indonesia seakan membiarkan dengan pasti hilangnya dugong dari perairan Indonesia.  Sekarang pun dugong Indonesia laksana sejarah yang kita hanya dapat mendengarkannya dari cerita nelayan-nelayan dulu dan atau hanya melihatnya berenang statis pada gambar dan foto-foto di museum.